Selamat kepada ananda M. HUSNI THAMRIN juara 3 bulu tangkis usia dini di kab. Batang

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 09 Mei 2013

ALAT SEDERHANA PENGUBAH SAMPAH PLASTIK JADI BBM

Written By Catatan Ngajar Ustadz Bowo on Jumat, 03 Mei 2013 | 10:42

Bermula dari pemberitaan di salah satu stasiun televisi tentang anak SMP yang berhasil membuat alat pengubah sampah plastik menjadi minyak. Rasa penasaran mulai membayangi, coba bayangkan jika tiap keluarga mampu membuat alat ini, dan memakainya untuk m̷e̷n̷g̷h̷a̷b̷i̷s̷i̷ sampah plastik disekitar rumah, hampir bisa dipastikan tak akan ada lagi sampah plastik yang bertebaran, lingkungan jadi semakin bersih dan tanpa sadar kita sudah berpartisipasi pada usaha penyelamatan bumi dari pencemaran limbah plastik.

Sebagai tambahan, plastik baru bisa terurai setelah 100 tahun berada dalam tanah, bisa juga lebih, tergantung pada jenis plastiknya. hmmm lama banget kan !!

Selain itu, untuk keperluan sehari hari kita tidak perlu membeli minyak tanah yang harganya semakin tak terjangkau. Sebab minyak yang dihasilkan alat ini kualitasnya lebih bagus dari minyak tanah. Dan jika mau, kita bisa mengkonversi lebih lanjut menjadi bensin, solar etc.

Isu kenaikan BBM yang sedang menghangat, sepertinya bakalan menambah kebermanfaatan alat ini pikirku. Penasaran semakin berlanjut yang pada akhirnya memaksaku untuk berkeliling seputaran google. Ada banyak informasi dan referensi yang aku dapatkan, dimulai dari sebuah mesin raksasa dari Amerika yang dapat menghabiskan ribuan ton sampah dalam setiap tahunnya untuk kemudian dikonversi menjadi minyak mentah.

Lanjut ke seorang warga Jepang yang membuat alat pengubah sampah plastik menjadi minyak. Alat ini lebih simpel dan diproduksi untuk kebutuhan rumah tangga, namun sayang harganya yang masih selangit yaitu sekitar 100 juta rupiah. Alat ini diproduksi oleh perusahaan Jepang bernama Blest, info selengkapnya mengenai alat ini silahkan cek tkp

Tidak hanya sampai disitu, ternyata di kota Ngawi anak anak SMK mampu membuat alat yang lebih sederhana dan lebih masuk akal untuk masyarakat Indonesia. Alat ini menggunakan bahan utama tabung elpiji 3 kg dan pipa besi, dilengkapi dengan dua lubang penguapan yang mampu menghasilkan bensin dan solar. Hmmmm mantap juga nih alat, namun sayangnya lagi, untuk dapat membuat alat ini memerlukan modal sekitar 600 ribu rupiah, murah? iya tapi masih belum cukup hemat untuk ukuran kantongku. Berita lengkapnya

Akhirnya pencarian referensi dan informasi sampailah pada titik konsep bahwa sebenarnya plastik memiliki kemiripan unsur pembentuk dengan bahan bakar minyak. Saat dipanaskan plastik akan meleleh lalu mencair, cairan plastik ini jika terus dipanaskan akan membentuk uap panas, dan jika uap panas ini melewati pendingin (kondensor) dia akan mengembun dan membentuk minyak. Mungkin itu konsep dasar yang aku tangkap. Mohon koreksinya kalo salah.

Setelah tertangkap konsep dasarnya, aku kembali melihat video anak smp di awal, akhirnya alat ini yang aku jadikan patokan, karena dari semua alat yang ada hanya inilah yang paling sederhana.

Okeeey sobat klikedukasi saatnya kita memulai pembuatan alat dengan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan:

  1. Kaleng bekas biskuit Khong Guan, tanggo atau sejenisnya
  2. Pipa besi sepanjang 2 meter atau  lebih panjang akan lebih bagus. Jika kurang dari 2 meter, kondensasi uap panasnya tidak maksimal. aku menggunakan pipa bekas antene :p
  3. Lem besi
  4. Sampah plastik
    Beberapa sampah plastik yang aku gunakan.

Selanjutnya tinggal merakitnya menjadi bentuk seperti di bawah.


Yang perlu diperhatikan adalah saat pengeleman, usahakan tiap sambungan tertutup lem dengan rapat, sebab jika ada kebocoran akan berpengaruh pada proses kondensasi dan banyaknya minyak yang dihasilkan.

Ini adalah tampilan alat sederhana buatanku..


Dari percobaan yang sudah aku lakukan, sampah plastik satu kaleng tango dapat menghasilkan minyak sebanyak setengah botol air mineral. Sebenarnya kuantitas minyak yang dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jenis sampah plastik yang digunakan.  Plastik botol minum seperti (aqua, mizone, pocari sweat, ember plastik etc) dapat menghasilkan lebih banyak minyak jika dibandingkan dengan kantong plastik, ato plastik-plastik snack.


Alat ini juga sudah aku coba di sekolah, dan alhamdulillah berhasil, berikut hasil percobaan kita.



Kita mencoba memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak dipakai serta sampah yang ada disekitar sekolah, termasuk tempat uji coba juga dilakukan pada bekas reruntuhan bangunan sekolah :). Ohya untuk pembakaran bisa dengan media apapun, disekolah aku nyoba make bahan bakar kayu, Namun untuk hasil yang maksimal, kita bisa menggunakan kompor gas, kenapa? yaaa karena panasnya lebih stabil dan kita mudah dalam mengatur suhu pemanasannya.



Foto anak anak sedang melakukan pengeleman pada pipa besi.



Jika pemanasan stabil (sayangnya aku ga sempet ngukur suhu pemanasannya) sekitar 20 - 30 menit pemanasan, minyak akan mulai menetes pada ujung pipa.

Dan ini dia hasilnya, aku sempet membuktikan bahwa minyak yang dihasilkan lebih bagus kualitasnya dari minyak tanah, sebab minyak ini dapat menyala di atas pipa besi dan sempet menyambar kumpulan minyak yang ada di bawahnya.
Menurut keterangan yang aku dapatkan, minyak yang dihasilkan dengan alat sederhana ini masih termasuk minyak mentah, artinya minyak ini masih bisa diproses lebih lanjut menjadi bensin, solar, minyak tanah dan sejenisnya.

Ohya semenjak ada alat ini, semua sampah plastik di rumah, aku kumpulkan untuk kemudian aku konversi menjadi minyak dan mudah-mudahan dengan adanya alat seperti ini lingkungan sekitar rumahku terbebas dari sampah plastik.

Sekian, semoga menginspirasi.

Jumat, 22 Februari 2013

BUDAYA BACA DENGAN MULTIPLE INTELLIGENCE DI SEKOLAH FINLANDIA

Data dari Organisation for Economic Co operation and Development (OECD) dengan program andalannya setiap 2 (dua) tahun sekali, yaitu Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2006-2007 memberikan informasi yang cukup bersifat korektif terhadap kemajuan pendidikan di negara kita.
Untuk kemampuan ‘Reading’, negara dengan kemampuan tertinggi adalah Finlandia dengan score 543,46. Disusul Korea Selatan (534,09), Kanada (527,91), Australia (525,43), Liechtenstein (525,08) dan seterusnya. Sedangkan negara yang mendapat skore tertendah adalah Tunisia dengan skore 374,62, disusul Indonesia (381,59), Mexico (399,72), Brazil (402,80), Serbia (411,74) dan seterusnya.
Mengapa harus bersifat korektif? Tulisan ini diharapkan mampu mengubah paradigma kita tentang budaya membaca dan meningkatkan kemampuan membaca masyarakat khusuusnya para pelajar kita. Dengan melihat data di atas, Finlansia mampu mengubah sebuah budaya, dari budaya lisan menjadi budaya baca dalam waktu yang relatif singkat (secara statistik hanya dalam 5 tahun). Pasti ada sesuatu yang unik dan luar biasa di Finlandia. Kita tahu bahwa mengubah budaya suatu masyarakat atau bangsa bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Namun Finlandia ternyata mempunyai cara dan sistem yang cukup efektif untuk melakukan hal ini.
Ternyata komunitas sekolah mempunyai andil dan potensi besar melejitkan minat baca pelajar. Dan akhirnya mempengaruhi semua komunitas lainnya. Juga mereduksi hambatan-hambatan atau aktivitas-aktivitas pesaing minat baca. Bagaimana sekolah-sekolah tersebut mampu mewarnai minat baca tersebut? Rahasianya ternyata sekolah tersebut menerapkan strategi multiple intelligence dalam pelaksanaan aktivitas kognitifnya atau pelaksanaan feedback setiap bab dalam setiap bidang studi. Setiap guru dalam melakukan feedback kognitif atau ‘ulangan harian’ pada setiap babnya menerapkan dua strategi penting, yaitu ‘discovering ability’ dan ‘open book’.
Rahasia pertama adalah ‘Discovering Ability’ adalah bagaimana soal-soal yang diberikan oleh siswa dapat dikerjakan atau dijawab oleh siswa dengan cara dan kemampuan masing-masing siswa. Tentunya kemampuan siswa ini tergantung dari kecenderungan multiple intelligence masing-masing. Jadi soal boleh sama, namun cara mengerjakan dapat berbeda-beda. Jawaban dapat dalam bentuk sebuah gambar, kronologis, tulisan, rekaman, atau presentasi. Sangat variatif sekali.
Rahasia kedua adalah ‘Open Book’. Setiap guru dalam memberikan ‘ulangan harian’ dengan cara buka buku. Secara otomatis sang guru akan membuat soal berkualitas tinggi. Dengan kata lain soal-soal tersebut akan terus bergerak ke atas sesuai dengan Tangga Bloom, yaitu dari tangga dasar pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Dengan open book, guru akan terhindar membuat soal dengan berhenti pada tangga pengetahuan saja. Guru akan tertantang membuat soal yang berkaitan dengan aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Tidak akan ada lagi soal yang mempunyai instruksi sebagai berikut: Sebutkan lapisan-lapisan atmosfer bumi beserta jarak ketinggiannya?. Apabila soal ini dikerjakan dengan open book, maka pasti siswa menjawab dengan benar dengan cara memindahkan tulisan dari buku ajarnya ke lembar jawaban ulangan harian. Namun guru akan tertantang untuk membuat soal yang berkualitas, seperti “Apabila mesosfera sebagai slah satu lapisan atmodfer bumi hilang, apa yang akan terjadi terhadap planet bumi?” Siswa akan tertantang untuk menganalisanya.
Selain itu hal yang menarik adalah model grouping dan kewajiban membaca buku pada setiap ulangan harian. Guru akan mengumumkan kepada siswanya, untuk membaca rata-rata 3 buku dan dibagi menjadi beberapa kelompok, biasanya satu kelompok terdiri dari 3 sampai 5 siswa. Terkadang informasi dari website juga dijadikan sumber data dalam mengerjakan ulangan harian.
Ketika cara dan sistem ini di jalankan serius oleh setiap sekolah di Finlandia, maka muncul data statistik tentang kesempatan anak untuk membaca yang luar biasa. Data statistik itu sebagai berikut:
Jumlah bidang studi di SD rata-rata = 6 bidang studi
Setiap bidang studi dalam satu tahun terdapat = 10 bab
Setiap ulangan harian setiap bab siswa membaca = 3 buku
Maka dalam 1 tahun dalam 1 bidang studi siswa membaca = 3 x 10 = 30 buku
Maka dalam 1 tahun untuk 6 bidang studi siswa membaca = 30 x 6 = 180 buku
Maka selama jenjang SD 6 tahun siswa membaca = 180 x 6 = 1,080 buku
Bagaimana dengan jenjang SMP, SMA dan Perguruan Tinggi?. Pantas saja tiba-tiba selama 5 tahun terjadi perubahan budaya minat baca yang cukup signifikan, dan menjadi ranking 1 di seluruh dunia.
Pertanyaan besarnya adalah apakah cara ini dapat diterapkan di Indonesia? Jawabnya adalah Bisa, mengapa tidak? Hanya saja membutuhkan paradigma yang sama dalam menyikapi pemberian soal dengan open book. Seorang teman yang juga sebagai dosen teknik di ITS Surabaya mengatakan bercerita kepada penulis bahwa beliau hampir 15 tahun sekolah di Amerika dan tidak pernah menjumpai soal-sola dengan closing book, apalagi mulitple choice. Ketika pulang ke Indonesia dan mengajar di ITS beliau menerapkan setiap kali melakukan feed back kepada mahasiswanya tidak pernah closing book, mesti dengan open book. Ketika saya tanya berapa dosen yang seperti itu? Dengan sedikit tertawa kecil beliau menjawab, tdak lebih dari 5 dosen. Wow … memang butuh persamaan paradigma terlebih dahulu, baru bisa diaplikasikan.
Semoga tulisan ini dapat menjadi embrio perubahan paradigma yang berkaitan dengan tes yang berkualitas, discovering ability dan open book test.
Mengapa harus bersifat korektif? Tulisan ini diharapkan mampu mengubah paradigma kita tentang budaya membaca dan meningkatkan kemampuan membaca masyarakat khusuusnya para pelajar kita. Dengan melihat data di atas, Finlansia mampu mengubah sebuah budaya, dari budaya lisan menjadi budaya baca dalam waktu yang relatif singkat (secara statistik hanya dalam 5 tahun). Pasti ada sesuatu yang unik dan luar biasa di Finlandia. Kita tahu bahwa mengubah budaya suatu masyarakat atau bangsa bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Namun Finlandia ternyata mempunyai cara dan sistem yang cukup efektif untuk melakukan hal ini.Seperti kita ketahui komunitas yang memberikan sumbangsih kepada para pelajar untuk meningkatkan minat baca adalah di awali dari keluarga, sekolah, masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang diselenggarakan pemerintah. Sebelumnya, kondisi di Finlandia hampir sama dengan Indonesia, banyak sekali mempunyai problem terhadap minat baca di setiap komunitasnya. Pada komunitas keluarga, acara TV dan play station menjadi pesaing utama minat baca anak. Di komunitas sekolah, perpustakaan sebagai sarana membaca belum mendapat prioritas. Fasilitas-fasilitas umum untuk membaca, seperti perpustakaan kota juga sepi pengunjung. Jadi hampi sama dengan Indonesia. Namun tiba-tiba dalam 5 tahun berikutnya Finlandia mengalami perubahan pesat terhadap minat baca. Bagaimana bisa begitu?
Terima kasih.

GURUNYA MANUSIA

Gurunya Manusia

Written By Catatan Ngajar Ustadz Bowo on Sabtu, 24 Maret 2012 | 21:32

Gurunya Manusia


Ketika kota Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh Amerika Serikat pada 1945, hal yang pertama ditanyakan oleh Kaisar Jepang, Kaisar Hirohito adalah berapa banyak guru yang masih hidup. Kaisar Hirohito sangat sadar bahwa kemajuan dan kebangkitan suatu bangsa itu dimulai dari sumber daya manusianya. Sementara sumber daya manusia yang baik itu bisa dicapai dengan pendidikan. Sedangkan faktor yang penting dalam pendidikan pada masa itu adalah keberadaan guru.



Guru adalah orang yang bisa mengajar murid-muridnya. Guru adalah sosok yang bisa mengarahkan pendidikan bagi para murid yang dididiknya. Guru adalah pendidik, pengajar, dan fasilitator bagi para muridnya. Oleh karenanya, sosok guru menjadi sangat urgen dalam dunia pendidikan. Salah satu faktor keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh guru.



Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Gurunya Manusia” menawarkan sebuah konsep keguruan yang bisa merealisasikan keberhasilan pendidikan. Konsep gurunya manusia merupakan sebuah konsep keguruan yang perlu dicermati. Konsep gurunya manusia adalah sebuah konsep yang mengarah pada kualifikasi guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik untuk suksesi pendidikan.



Gurunya manusia adalah guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar (hlm. 57).



Gurunya manusia memiliki karakter yang mulia, budi pekerti, moral, dan etika yang luhur, serta memiliki kompetensi yang berkualitas. Dengan demikian, gurunya manusia bukanlah guru robot yang kinerjanya mirip seperti robot. Guru robot hanya peduli pada beban materi yang harus disampaikan kepada para murid di waktu kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan.



Gurunya manusia juga tidak berkarakter materialis. Guru materialistis hanya mementingkan materi-finansial belaka. Guru materialistis adalah guru yang selalu melakukan perhitungan, hal ini seperti yang dilakukan oleh para pelaku bisnis. Guru seperti itu hanya mengincar dan menghitung berapa besar gaji yang diberikan sehingga terkadang menimbulkan ketidakikhlasan dalam mendidik para murid.



Tentunya, gurunya manusia yang ditawarkan oleh Munif bukanlah seperti guru robot ataupun guru materialistis. Gurunya manusia yang dikonsepkan Munif adalah guru yang ikhlas, mau belajar, dan tegar serta sabar dalam mengajar para muridnya. Gurunya manusia juga mau mengajar dan menerima murid dengan berbagai karakter.



Gurunya manusia bersikap profesional, personal, sosial, dan pedagogik. Di hadapan guru, setiap murid berpotensi menjadi juara. Gurunya manusia tidak mendiskriminasi setiap muridnya atau sebagian murid yang memiliki perbedaan dan kelainan. Dia selalu mengajar dengan hati, memahami kemampuan murid dan terus menjelajahinya, mengajar dengan cara yang menyenangkan dan menarik, serta mampu menempatkan diri sebagai fasilitator yang baik terhadap pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar.



Menurut Anies Baswedan, Ph.D, rektor Universitas Paramadina dalam sebuah kata pengantarnya, seorang guru mesti menguasai dua konsep dasar, yaitu kepengajaran (pedagogi) dan kepemimpinan. Guru harus mengerti dan bisa mempraktikkan konsep pedagogi yang efektif agar tujuan pendidikan tercapai. Namun tak dapat dimungkiri bahwa kondisi tiap zaman berbeda. Begitu pula kondisi tiap daerah. Banyak sekali faktor yang berpengarh pada keberhasilan pendidikan. Guru saat ini haruslah senantiasa up-to-date terhadap perkembangan ilmu pedagogi.



Konsep lain yang penting adalah kepemimpinan. Guru adalah pemimpin di kelas bagi para muridnya. Guru mesti memberikan contoh yang baik kepada para muridnya. Akhlak guru memancar menjadi inspirasi pembentukan karakter murid-murid. Tidak hanya demikian, guru juga harus bisa memberikan motivasi kepada para muridnya di dalam kelas. Hal yang penting lagi bagi guru, menurut Anis Baswedan, Ph.D, adalah bahwa guru itu harus senantiasa belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tidak dapat dimungkiri lagi bahwa arus perkembangan dan perubahan zaman begitu drastis dan berjalan sangat cepat. Oleh karenanya, guru juga harus mampu menghadapi arus perubahan tersebut. Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Gurunya Manusia”, para pembaca diajak untuk menyelami falsafah konsep guru yang ideal yang disebut oleh penulisnya sebagai gurunya manusia. Buku setebal 256 halaman tersebut sangat inspiratif sebagai pedoman untuk meningkatkan kualitas guru guna menuju pendidikan progresif dan visioner. Carut-marutnya pendidikan di Indonesia saat ini memang tidak bisa dimungkiri lagi adanya. Sebagai salah satu solusinya adalah peningkatan kualitas guru yang nantinya akan mampu mendidik para peserta didik dengan baik. *) Peresensi adalah pengamat pendidikan pada Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta 



http://oase.kompas.com

Penerapan MI dalam Pendidikan

“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak sanggup menggali potensi anak, dan tidaklah seorang guru tak mampu menggali potensi anak kecuali pihak managemen yang jarang memberi pelatihan pada guru-gurunya”, demikian pernyataan seorang Munif Chatib, pakar Multiple Intelligence saat mengisi pelatihan guru-guru SMP Boarding Lazuardi Insan kamil Sukabumi.

Pernyataan demikian sekalipun nampak bombastis, sebetulnya sesuai dengan paradigma baru pendidikan yang sedang berkembang di dunia sekarang, bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi cerdas. Nampak bombastis karena kenyataan ini memang berlawanan dengan persepsi yang diyakini selama ini bahwa anak cerdas berjumlah terbatas, seakan-akan mereka menempati strata tertentu. Adanya penemuan terbaru ini memang diharapkan akan mengubah pendekatan pendidikan yang selama ingi terlanjur mapan.
Mengingat pentingnya penyamaan paradigma, terutama diantara para guru bahwa setiap anak adalah cerdas, memompa kreativitas mengajar guru adalah kunci terpenting agar kecerdasan setiap anak terkuak keluar. Dan untuk kepentingan itu, SMP Lazuardi Insan kamil konsisten mengembangkan kreativitas mengajar para guru dengan berbagai pelatihan dan menghadiri seminar-seminar pendidikan. Setiap guru yang baru direkrut akan disertakan dalam pelatihan bersama Lazuardi Next, observasi dan magang mengajar di SMP Lazuardi di Cinere (Lazuardi Pusat) dan SMP Lazuardi Cilandak-Jakarta. Selain itu, mereka akan terus mendapatkan kesempatan pelatihan dan konsultasi Lesson Plan dua hari dalam satu bulan bersama Munif Chotib, pakar Multiple Intelligence yang konsisten mengkolsuntani sekolah yang belum lama berdiri ini. Dan agar para guru memahami kebutuhan para siswa boarding, masing-masing guru dikirim ke beberapa sekolah boarding di dalam dan di luar Sukabumi; Al-Kautsar, Al-Bayan, SMA Lazuardi, Smart Ekselensia, dan lain-lain. 
Kembali pada tema kecerdasan, Menurut Dr Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Amerika setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain: keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Mengapa demikian? Karena ternyata diketahui kualitas kecerdasan ini bisa rusak karena adanya sebab tertentu. Ironisnya pengaruh kuat yang merusak potensi kecerdasan itu ternyata datang dari lingkungan terdekat mereka: rumah dan sekolah!
Situasi rumah yang menimbulkan depresi dan keterasingan berperan memupus bakat alamiah ini. Tekanan juga bisa datang dari orang tua yang karena sebab tertentu malah menghambat kreatifitas, keingintahuan, kegembiraan dalam bermain anak-anak. Ambisi orang tua agar anak-anak mereka meraih prestasi tertentu mendorong anak-anak ini untuk tumbuh terlampau cepat melampaui usia mental mereka dan pada saat bersamaan menghilangkan kegembiraan masa kecil mereka. Mereka pun harus kehilangan kegembiraan masa kecilnya. Mereka kerap menanggung beban keinginan orang tua mereka sendiri dengan terpaksa mengikuti berbagai macam kursus: mulai kursus bahasa asing, sempoa, piano dan sebagainya. Jika saja keinginan tersebut datang atas kemauan anak itu sendiri mungkin tidak mengapa. 
Sementara itu di sekolah, perusakan potensi kecerdasan alami itu terjadi lewat kurikulum yang terlampau kaku, tidak fleksibel atau malah membebani. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan juga ikut andil menyumbang terkuburnya potensi alami tersebut.
Bertolak dari kenyataan itulah di SMP Laziardi Insan Kamil dikembangkan pendekatan pendidikan yang menjadi alternatif bagi sekolah pada umumnya. Sekolah yang dirancang atas pendekatan bahwa setiap anak itu mempunyai kecerdasannya sendiri. Lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak tumbuh dengan kreatifitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa usia perkembangan mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Kecerdasan alami anak dirangsang lewat kegiatan sederhana seperti bercerita, permainan, kunjungan ke tempat tertentu, dan mengajukan pertanyaan kritis.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, sekolah tidak lagi menggunakan sistem ranking dan tidak ada tes psikologi untuk mengukur kecerdasan seorang anak. Sebuah tes jauh dari memadai untuk mengukur kemampuan otak manusia. Sistem rangking malah menciptakan pelabelan di sekolah. Ada anak pintar dan ada anak bodoh. Pendekatan pendidikan terbaru dikembangkan atas keyakinan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri dengan cara yang benar-benar berbeda dengan anak lain. Karena itu dalam sistem ini upaya membanding-bandingkan antara anak satu dengan anak lainnya dihindari. Satu-satunya tes yang ditempuh adalah tes MIR (Multiple Intelligence Research) yang berfungsi untuk mengetahui jenis kecerdasan yang paling menonjol pada setiap anak. Hasil tes inilah yang kemudian dijadikan titik tolak oleh setiap guru dalam menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar para siswa.
Menggunakan pendekatan Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh pakar neurosains Dr Howard Gardner adalah Sebagai konsekuensi yang harus dipilih dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah seperti Lazuardi Insan Kamil. Menurut teori Multiple Intelligences Gardner, manusia mempunyai delapan macam kecerdasan sementara sistem pendidikan pada umumnya hanya mengembangkan dua kecerdasan. Kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, matematis-logis, viso-spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Anak didik dipetakan menurut kedelapan kecerdasan ini dan mendidik mereka dengan cara berbeda sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Karena itu metode pengajaran yang diterapkan bisa sangat khas. Dalam mengajarkan bahasa misalnya, maka cara mengajar untuk anak dengan tipe kecerdasan linguistik berbeda dengan anak bertipe kecerdasan matematis-logis dan berbeda pula untuk anak dengan tipe kecerdasan viso-spasial. Pada umumnya para pengajar akan berkeberatan jika murid-murid mereka bergerak selama pelajaran berlangsung, di sisi lain anak dengan tipe kecerdasan kinestetik -yang selalu bergerak- akan tersiksa jika mereka harus duduk diam selama pelajaran berlangsung, padahal anak dengan tipe ini akan sangat cepat menyerap pelajaran justru dengan membiarkannya bergerak. Pola inilah yang dikenal dengan mendidik sesuai kecerdasan anak. Atau kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar anak.
Para pendidik di sekolah seperti ini mempunyai keyakinan bahwa tiap anak mempunyai kecepatan dan waktu tersendiri dalam mempelajari atau menguasai sesuatu. Jadi tidak perlu memaksa anak yang belum bisa menulis karya ilmiah untuk bisa menulis ilmiah misalnya. Sebab jika tiba saatnya anak ini akan mampu menulis dengan sendirinya bahkan kemampuannya bisa melampaui anak yang mampu menulis di usia yang lebih dini. Sangat penting untuk disadari adalah menciptakan kondisi yang mampu membuka gerbang kecintaan anak-anak akan pembelajaran. Dengan cara itu diharapkan kita akan mewariskan generasi pembelajar yang mampu untuk belajar dan mengembangkan diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka. Dan hal itu bisa dicapai dengan cara menghindarkan setiap kondisi yang membuat mereka justru berhenti atau bahkan membenci proses pembelajaran itu sendiri.
(hasan mawardi) 

RPP MODEL MULTIPLE INTELIGENCE IPA SD


Written By Catatan Ngajar Ustadz Bowo on Senin, 11 Februari 2013 | 09:47



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Sekolah                         :   SDIT PERMATA HATI BATANG
Mata Pelajaran            :   Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA )
Kelas/Semester            :   IV/1
Materi Pokok               :   Rangka Manusia
Waktu                          :   4 x 45 menit  (3 X pertemuan)
Judul RPP                   :    PADEPOKAN TOTOK DARAH TSU BA TSA
Standar Kompetensi   :    Memahami hubungan antara struktur organ tubuh manusia  dengan fungsinya, serta pemeliharaannya
Kompetensi Dasar      :    Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya
Tujuan Pembelajaran          : 1. Siswa dapat mendeskripsikan rangka manusia seperti: rangka badan, rangka kepala, rangka anggota gerak dan sendi secara tekun ( diligence ) , tanggung jawab ( responsibility ) dan teliti ( careful)
2.     Siswa dapat mendeskripsikan fungsi rangka manusia
Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa:
Pertemuan 1 dan 2:
Apersepsi:
Pengkondisian kelas dengan yel-yel semangat
Scene setting:
Guru bercerita tentang seorang ahli totok darah itu harus dapat pas ketika mentotok darah pasiennya, karena kalau salah dalam mentotok bisa berakibat fatal cidera atau kematian. Oleh karena itu maka seorang ahli totok darah harus tahu bagian-bagian anggota tubuh manusia. Guru mengajak siswa untuk menjadi ahli totok darah dengan syarat harus tahu bagian-bagian tubuh manusia. Untuk itu siswa harus belajar bagian-bagian tubuh manusia dengan belajar pada “PADEPOKAN TOTOK DARAH TSU  BA TSA”  yang dipimpin oleh Begawan padepokan yang diperankan oleh siswa yang ditunjuk oleh guru untuk mengoperasikan komputer / alat peraga interaktif yang sudah kita buat.
Strategi:
Active Learning
Prosedur Aktivitas:
1.      Guru menunjuk salah satu siswa yang menjadi begawan bisa dengan acak, kuis atau rapi-rapian diantara siswa.
2.      Siswa dibantu guru untuk mengoperasikan alat peraga
3.      Ketika mencoba kuis atau latihan soal sang begawan meminta untuk semua siswa harus memberi jawaban, siapa yang benar menjawab dia bisa mengoperasikan alat peraga.
4.      Setelah selesai guru mengkelompokkan anak dengan berpasangan teman sebangku, yang satu orang berperan sebagai ahli totok dan seorang jadi pasien
5.      Guru mengadakan lomba totok darah dengan kriteria cepat dan benar bagi yang bisa mentotok daerah/bagian-bagian tubuh yang disebutkan oleh guru.
6.      Setelah selesai bergantian peran antara tukang totok darah dan pasiennya, gurupun mengadakan lomba yang sama.
7.      Pemenang bisa diadu di depan kelas.
8.      Pemenang dinobatkan sebagai ahli totok darah
Project:
v Mewarnai rangka manusia berdasarkan jenis tulangnya: merah: tulang pipa, kuning: tulang pipih, hijau: tulang pendek dikerjakan di rumah, setiap anak mendapat 1 lembar gambar rangka manusia
Penilaian:
1.      Dari aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan kriteria: semangat, kerjasama, kemampuan untuk menjawab soal/quis secara lesan ataupun lomba yang diadakan.
2.      Test tertulis
Penilaian aktivitas:
No.
Aspek
Kriteria
Skor
1.
2.
3.
Kerjasama
Praktek
Sikap
* bagus
* sedang
* kurang
* aktif  Praktek
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
* tenang, tidak bikin masalah
* sedang
* kurang
4
2
1
4
2
1
4
2
1
  KISI-KISI SOAL:
  1. Fungsi rangka
  2. Mengklasifikasikan jenis tulang
  3. Bagian rangka kepala
  4. Bagian rangka tubuh
  5. Bagian rangka anggota gerak
  6. Macam sendi pada manusia
  7. Kelainan tulang belakang pada manusia
SOAL:
1.      Apakah kegunaan rangka bagi manusia....
2.      Gambarkan contoh tulang pipih...
3.      Berikan contoh yang termasuk tulang pipa...
4.      Sebutkan bagian-bagian tulang yang terdapat pada gambar di bawah...


 

5.      Sebutkan yang termasuk sendi putar pada manusia...
6.      Sebutkan yang termasuk rangka kepala...
7.      Gambarkan rangka anggota gerak dan sebutkan bagian-bagiannya..
8.      Gambarkan kelainan tulang belakang manusia dan sebutkan namamya...
9.      Mengapa ada sebagian orang pada waktu tua menjadi bungkuk...
10.  Bagimana kalau manusia tidak mempunyai rangka...
LEMBAR PENILAIAN
No
Nama Siswa
Penilaian
Jumlah
Skor
Nilai
Aktivitas
Test tertulis
Produk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.